Okita.News, - SOPPENG – Di antara bentangan perbukitan hijau dan jejak panjang peradaban Bugis, Kabupaten Soppeng kembali menapaki usianya yang ke-765. Bukan sekadar angka, Hari Jadi Soppeng (HJS) menjadi momentum refleksi, bagaimana masa lalu yang kaya nilai terus dihidupkan dalam langkah pembangunan masa kini. Senin, (23/3/2026).
Di tengah peringatan itu, sosok Bupati Soppeng, Suwardi Haseng, hadir membawa semangat baru. Baginya, HJS bukan hanya seremoni tahunan, melainkan ruang untuk memperkuat identitas sekaligus meneguhkan arah masa depan daerah yang dikenal dengan julukan Bumi Latemmamala.
“Sejarah adalah fondasi, tapi masa depan adalah tujuan,” menjadi semangat yang tergambar dalam berbagai rangkaian kegiatan HJS ke-765 tahun ini.
Perayaan yang bernuansa budaya dan kebersamaan itu menghadirkan wajah Soppeng yang hangat. Dari kegiatan adat, pertunjukan seni, hingga keterlibatan masyarakat lintas generasi, semuanya berpadu menjadi narasi besar tentang kebanggaan daerah.
Suwardi Haseng tampak tidak hanya hadir sebagai kepala daerah, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang merasakan denyut perayaan. Ia menyapa warga, berdialog dengan tokoh masyarakat, hingga menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan percepatan pembangunan.
Dalam perjalanan panjangnya, Soppeng dikenal sebagai wilayah dengan akar sejarah yang kuat. Nilai-nilai kearifan lokal seperti sipakatau (saling menghargai), sipakainge (saling mengingatkan), dan sipakalebbi (saling memuliakan) menjadi ruh yang terus dijaga. Di usia ke-765 ini, nilai-nilai tersebut kembali digaungkan sebagai fondasi dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berdaya saing.
Namun, di balik romantisme sejarah, tantangan masa depan juga tak bisa diabaikan. Peningkatan infrastruktur, penguatan ekonomi lokal, serta pengembangan potensi generasi muda menjadi fokus penting yang terus didorong pemerintah daerah.
Melalui momentum HJS, Suwardi Haseng mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga mengambil peran dalam membangun masa depan Soppeng yang lebih maju.
Perayaan ini pun menjadi pengingat bahwa Soppeng bukan sekadar wilayah administratif, melainkan entitas peradaban yang telah melewati ratusan tahun perjalanan. Sebuah daerah yang terus tumbuh, beradaptasi, dan melangkah maju tanpa melupakan akar budayanya.
Di usia ke-765, Soppeng berdiri tegak menjaga warisan, merangkul perubahan, dan menatap masa depan dengan penuh optimisme.
Editor: Sahar


