Notification

×

Kategori Berita

Tags
SANTIAJI

ANDI WAHDA

DHATIA

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Hujan, Kopi, dan Politik: Elite Lokal Soppeng Diskusikan Arah Demokrasi 2029

Rabu, 28 Januari 2026 | Januari 28, 2026 WIB Last Updated 2026-01-28T01:28:25Z
Okita.News, - SOPPENG - Derasnya hujan yang mengguyur Kota Watansoppeng tak menyurutkan denyut diskusi politik di Warkop Olleng, Jalan Pemuda, Kelurahan Lemba, Kecamatan Lalabata, Rabu (28/01). Di balik kepulan asap kopi dan suasana santai, perbincangan serius tentang masa depan demokrasi Indonesia justru menghangat.

Diskusi santai penuh makna itu dihadiri Ketua DPD Partai NasDem Soppeng, Ade Irawan, advokat senior Abdul Rasyid, pengurus Dozer Kabupaten Soppeng Hamdani, Awal selaku kontraktor, serta Firdaus, kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Perbedaan latar belakang tak menghalangi kesamaan pandangan politik harus dibicarakan secara terbuka, jujur, dan membumi.

Salah satu topik utama yang mengemuka adalah penetapan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) yang dijadwalkan pada tahun 2027 sebagai pijakan awal menuju Pemilu 2029. Para peserta diskusi menilai, fase ini menjadi momentum bagi partai politik dan masyarakat untuk mulai membaca arah kebijakan elektoral ke depan.

“PKPU bukan sekadar aturan teknis, tapi fondasi demokrasi lima tahunan. Salah membaca arah, bisa berdampak panjang,” mengemuka dalam diskusi yang berlangsung akrab namun penuh kalkulasi politik.

Tak hanya soal elektoral, diskusi juga melebar pada isu hukum nasional, khususnya pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) baru yang mulai berlaku tahun ini. Isu tersebut dinilai tak kalah strategis karena bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Advokat senior Abdul Rasyid menegaskan pentingnya sosialisasi masif terhadap aturan hukum baru tersebut. Menurutnya, perubahan norma hukum tanpa pemahaman publik berpotensi menjerat masyarakat dalam persoalan hukum yang seharusnya bisa dihindari.

“KUHP dan KUHAP baru ini harus dipahami masyarakat luas. Jangan sampai warga terjebak masalah hukum hanya karena minim informasi,” tegas Abdul Rasyid.

Diskusi di warkop itu menjadi gambaran kecil bagaimana politik lokal dirajut dari ruang-ruang sederhana. Di tengah hujan dan secangkir kopi, gagasan tentang demokrasi, hukum, dan masa depan bangsa terus bergulir hangat, cair, namun penuh arah.
display this