Notification

×

Kategori Berita

Tags
SANTIAJI

ANDI WAHDA

DHATIA

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Acara Pembukaan Gau Maraja La Patau Matanna Tikka Dimeriahkan dengan Tarian Mappasiame Wanua

Minggu, 16 Juli 2023 | Juli 16, 2023 WIB Last Updated 2023-07-16T01:28:47Z
Okita.News,- Watansoppeng, - Tarian kolosal Mappasiame Wanua diwarnai kemeriahan acara pembukaan Gau Maraja La Patau Matanna Tikka yang diselenggarakan di Lapangan Gasis Watansoppeng, Sabtu, (15/7/2023). Pukul 08:00 wita (malam).

Penata tari Mappasiame Wanua Abdi Bashit mengatakan, bahwa penari yang akan tampil pada acara ini sebanyak 200 penari. Abdi Bashit kemudian membeberkan Sinopsis Tari Mappasiame Wanua yang pada intinya menceritakan tentang aktivitas membangun kampung atau membangun peradaban.

Dalam kosa kata bahasa Bugis, Pasiame Wanua” terdiri dari dua kata yakni “Mappasiame” (membangun) Wanua” (kampung). Jika kata ini digabung , berarti membangun kampung atau bisa juga diartikan lebih luas dengan pengertian membangun peradaban.

Analogi “wanua” atau kampung tidak sekadar tempat tinggal atau hunian beraktifitas, tapi lebih cenderung sebagai tempat dimulainya sesuatu tatanan baru. Jika suatu kampung menjadi baik, maka dengan sendirinya, seluruh penghuni kampung tersebut akan menjadi baik pula. Inilah yang disebut dengan peradaban.

Dalam “Mappasiame Wanua” ini, ritual “Mappatettong Bola” (mendirikan rumah) dijadikan sebagai media. Hal mana menggambarkan bagaimana sikap gotong royong dan kebersamaan dijadikan simbol “Mappasiame” (membangun) sesuatu.

Rumah atau “bola” bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga wadah berinteraksi, baik sesama penghuni, maupun dengan sekitarnya. Termasuk merajut hubungan sosial, ekonomi dan budaya serta kepercayaan.

Tradisi mendirikan rumah secara gotong royong bagi masyarakat Bugis, memang sejak dulu sudah ada. Tentunya kebiasaan ini kita bisa dapati saat mendirikan rumah panggung, baik yang terbuat dari kayu maupun bambu.

Disinilah nilai kebersamaan terbentuk dengan sendirinya. Mereka bahu membahu, menyiapkan semua kebutuhan dan saling berbagi, sehingga semua pekerjaan terasa ringan dan mudah.

Mappasiame Wanua ini terdiri dari tiga bagian :
1. Prosesi Mappatettong Bola Prosesi ini terdiri dari tiga ritual yang dikerjakan sekelompok orang bersama- sama:

– Ritual menentukan waktu dan tempat

– Ritual menetapkan “posi bola” (tiang utama)

– Ritual “mappasili” (mensucikan) rumah

2. Prosesi “Mappugau” (bekerja)
Menggambarkan bagaiman etos kerja masyarakat Bugis dalam membangun daerahnya. Khususnya di Soppeng dikenal dengan masyarakat agraris. Pada prosesi ini akan ditampilkan berbagai seni tradisional pedalaman yang dilakonkan secara massal, antara lain, “Mappadendang” (menumbuk lesung) dan beberapa seni pertunjukan lainnya yang berkaitan dengan pertanian. Hal ini tentunya menjadi gambaran, bahwa sejak dulu masyarakat sudah menjadikan ketahanan pangan sebagai etos kerja.

3. Prosesi “Mappasisumpung” Ritual “Mappasisumpung” (menghubungkan) ini bermakna, bahwa manusia senantiasa tak boleh putus hubungan dengan Sang Pencipta. Prosesi ini menggambarkan rasa syukur karena telah didirikannya rumah. Hal ini menjadi penanda, bahwa segala sesuatu yang dikerjakan di atas bumi ini, tak lepas dari curahan rahmat dan berkah dari “Dewata Seuwae” Tuhan Yang Maha Esa.(PS)


Publizher: 54 HAR
display this